01. keputusan
sudah sebelas tahun ian tinggal di tempat kostnya, sejak ia pertama kali kuliah dulu hingga bekerja. Beberapa generasi sudah tinggal di bergantian disana, ian tetap bergeming.
ian pikir dengan tetap tinggal bersama mahasiswa membuat pikirannya tetap smart, tetap dapat mengikuti perkembangan, dan yang paling penting tetap berjiwa muda. Dan itu memang benar. Bahkan kini wajahnya pun tetap tampak semperti awal dua puluhan, padahal usianya sudah mendekati tiga puluhan.
Tapi sebenarnya ada alasan lain yang lebih kuat membuat ian tetap bertahan, ian terlalu malas untuk pindah. Menurutnya, mengepaki barang-barang, memindahkannya, lalu membongkar dan merapikannya lagi di tempat baru adalah pekerjaan konyol. Seperti sisipus yang mendorong batu besar ke atas gunung, lalu dewa menggelindingkan batu itu kembali ke bawah agar sisipus dapat mendorongnya kembali ke atas.
Apalagi kini barang-barang yang ia miliki sudah cukup banyak. Maklum, setelah sebelas tahun, barang-banrang yang telah dia beli dan kumpulkan menjadi bertimbun-timbun. Terutapam barang-barang koleksinya, buku-buku, cd, vcd, dvd, figur robot gundam dan pathlabor, dan entah apa lagi.
Tapi kini apa yang menjadi alasannya ogah pindah berbalik. Alih-alih malas pindah, kini ian ingin pindah. Kamar kostnya kini terlalu sempit, apa lagi kalau ada temannya yang datang ke kamar, entah untuk ikutan nonton tv, maen game, atau sekedar ngobrol di kamarnya.
Hal ini diperburuk oleh kenyatan bahwa ia adalah penghuni paling dewasa dan paling mapan di tampat kost. Setiap ada penghuni lain (yg ia sebut adik kost) bermasalah, selalu saja datang ke kamarnya untuk curhat mencari pemecahan masalah atau nasehat dan pendapat. Awalnya ia merasa diberi kehormatan menjadi tempat curhat, tapi tempat sampah yang paling besar pun lama kelamaan akan terlalu penuh untuk menerima sampah baru.
Belum lagi kebiasaan buruk adik-adik kostnya untuk meminjam sesuatu padanya. Mulai barang keperluan sehari-hari, mie instan, novel dan tetek bengek lainnya, dan paranyany mereka kadang meminjamnya tanpa permisi dan sering kali terlalu malas untuk mengembalikan. Belum lagi pinjaman uang yang kebanyakan berakhir dengan pemutihan.
Masih ditambah lagi jika ada penghuni kost yang membuat ulah. Sebagai penghuni yang tertua dan paling dikenal di lingkungannya, dialah yang ditegur. Tak peduli jika ian sama sekali tidak tahu menahu kejadian itu.
Semakin lama, kenyamanan yang dulu diberikan tempat itu semakin pudar alih-alih ketidak nyamanan. Sebuah keputusan berbinar dibenaknya: PINDAH!


0 Comments:
Post a Comment
<< Home