Mid Night Call

ini novel hasil latihanku menulis. diilhami oleh pengalamnku yang sering dicurhatin oleh orang-orang yang tidak aku kenal via telepon. Aku emang pernah sengaja mempublikasikan no. tlp rumahku untuk menerima curhat dari siapa saja. Tapi dijamin cerita ini tidak diambil dari kisah-kisah yang dicurhatkankepadaku.

My Photo
Name:
Location: Balikpapan, East Borneo, Indonesia

aku orang yang apa adanya. terbuka, dan suka bercerita. Semoga orang lain suka

Sunday, October 31, 2004

03. Kepindahan

Jiwa perfectionis ian kambuh lagi ketika memulai untuk pindah. Dia bersukur pemilik memperbolehkan dia mengubah apapun di rumah itu selama tidak permanen. Hanya sedikit perubahan yang ia inginkan, membongkar sekat triplek agar kamar tidur menyatu dengan ruang serba guna, kesannya jadi lebih luas.

Perubahan lain hanya masalah warna, ian tidak suka warna putih tembok rumah itu, seperti puskesmas saja. Lantai bawah ia ganti dengan warna-warna ceria, lantai atas berganti warna soft yang lebih cocok untuk istirahat.

Kedua perubahan itu dia serahkan kepada tukang atas pengawasannya, agar hasilnya lebih perfect. Sebaliknya pengaturan ruang dia lakukan sendiri. Tak seorang pun ia ijinkan membantu mengatur barang-barangnya. Ia lebih suka melakukannya sendiri.

Kadang kala ian sendiri merasa heran dengan sifat keras kepala dan perfectionisnya. Sifat yang umumnya dimiliki oleh orang2 berkemampuan sosial rendah. Tapi ian tidak seperti itu, ia cukup populer di lingkungan sosialnya.

Tapi ian selalu menikmati hasil kerjanya. Tentu saja karena semuanya berjalan seperti yang ia mau. Seperti kali ini, sebuah rumah petak senyaman apartemen.

02. Tempat Baru

Boleh dibilang ian memiliki sifat perfectionis berat. Tak pernah melakukan sesuatu tanpa rencana matang. Dalam hal kepindahan, ian telah menentukan sederetan kriteria untuk tempat berunya.

1st, tempat itu harus cukup luas untuk barang-barangnya. Lebih baik lagi jika menyediakan cukup ruang untuk mengatur koleksinya agar bisa dilihat kapan saja dia mau.

2nd, tempat itu harus menyediakan prifasi baginya. Syukur jika memiliki kamar mandi dan toilet sendiri. Dengan begitu ian tak perlu lagi ngantri kamar mandi. Dapur kecil tidak akan ditolak keberadaannya.

3th. keamanannya terjamin agar dia tidak takut barang-barangnya dicuri

4th. Suasana tenang, hal yang sudah lama ia rindukan.

5th. ada saluran telepon agar dia bisa mencolokkan modemnya.

6.th cukup murah untuk ukuran seorang supervisor produksi seperti dia.

Sulit juga, sebuah apartemen kecil mungkin bisa memenuhi persayratan 1 -5, tpai tidak mungkin memenuhi persyaratan ke 6. Gajinya takkan mampu membayar sewanya!

Tampaknya pencarian itu seperti mission imposible. Bedanya MI memecahkan masalah dengan bantuan peralatan canggih, sedangkan misi ini depecahkan dengan kebetulan. Persis Archimedes yang menemukan berat jenis, hanya saja ian tidak berlari-lari telanjang keliling kota!

Saat mencari rumah temannya, ian tersesat ke sebuah jalan buntu. Uniknya rumah disitu semuanya sama, bahkan nomornya pun sama, 550, bedanya dibelakang nomor itu ada huruf a-k.

Rumah2 menempel satu sama lainnya seperti ruko bertingkat dua. Hanya saja ukurannya kecil, dan terdapat didalam gang kecil, bukan pinggir jalan raya.

"Apakah rumah-rumah ini disewakan?" Tanya ian pada seorang ibu yang kebetulan berpapasan dengannya.

"Oh ya, tunggu sebentar,"ibu itu menjawab dan langsung pergi mencari pemilik rumah-rumah itu sebelum ian menyatakan minatnya untuk menyewa.

Sebetar saja pemilik ruma-rumah itu datang membawa kunci, mengajak ianmelihat-lihat. Lantai satu terdapat dapur kecil, nyaris tanpa pembatas dengan ruang tamu, ada kamar mandi kecil sekaligus toilet yang terlalu kecil untuk diberi bak mandi, hanya ada shower sebagai pengganti. Lantai dua ada ruang serba guna yang dibatasi dinding triplek dengan sebuah kamar tidur, selebihnya tempat menjemur cucian. Asyiknya ada line telepon dirumah itu!

Seharusnya ada tawar-menawar harga, tapi peilik rumah itu bersikeras dengan harga yang ada. Dalihnya ia tidak mau menerima komplain dari penyewa lain jika ian mendapat harga lebih murah. Tapi ian tak keberatan dengan harga itu, hanya 3 kali sewa kamarnya, tapi luasnya 6 x!

Belakangan ian tahu pemilik rumah itu bohong karena sewanya lebih mahal dari yang lain. Alasannya rumah itu ada line teleponnya. Padahal line itu dipasang oleh penyewa sebelumnya. Jadi bukan investasi pemilik.


01. keputusan

sudah sebelas tahun ian tinggal di tempat kostnya, sejak ia pertama kali kuliah dulu hingga bekerja. Beberapa generasi sudah tinggal di bergantian disana, ian tetap bergeming.

ian pikir dengan tetap tinggal bersama mahasiswa membuat pikirannya tetap smart, tetap dapat mengikuti perkembangan, dan yang paling penting tetap berjiwa muda. Dan itu memang benar. Bahkan kini wajahnya pun tetap tampak semperti awal dua puluhan, padahal usianya sudah mendekati tiga puluhan.

Tapi sebenarnya ada alasan lain yang lebih kuat membuat ian tetap bertahan, ian terlalu malas untuk pindah. Menurutnya, mengepaki barang-barang, memindahkannya, lalu membongkar dan merapikannya lagi di tempat baru adalah pekerjaan konyol. Seperti sisipus yang mendorong batu besar ke atas gunung, lalu dewa menggelindingkan batu itu kembali ke bawah agar sisipus dapat mendorongnya kembali ke atas.

Apalagi kini barang-barang yang ia miliki sudah cukup banyak. Maklum, setelah sebelas tahun, barang-banrang yang telah dia beli dan kumpulkan menjadi bertimbun-timbun. Terutapam barang-barang koleksinya, buku-buku, cd, vcd, dvd, figur robot gundam dan pathlabor, dan entah apa lagi.

Tapi kini apa yang menjadi alasannya ogah pindah berbalik. Alih-alih malas pindah, kini ian ingin pindah. Kamar kostnya kini terlalu sempit, apa lagi kalau ada temannya yang datang ke kamar, entah untuk ikutan nonton tv, maen game, atau sekedar ngobrol di kamarnya.

Hal ini diperburuk oleh kenyatan bahwa ia adalah penghuni paling dewasa dan paling mapan di tampat kost. Setiap ada penghuni lain (yg ia sebut adik kost) bermasalah, selalu saja datang ke kamarnya untuk curhat mencari pemecahan masalah atau nasehat dan pendapat. Awalnya ia merasa diberi kehormatan menjadi tempat curhat, tapi tempat sampah yang paling besar pun lama kelamaan akan terlalu penuh untuk menerima sampah baru.

Belum lagi kebiasaan buruk adik-adik kostnya untuk meminjam sesuatu padanya. Mulai barang keperluan sehari-hari, mie instan, novel dan tetek bengek lainnya, dan paranyany mereka kadang meminjamnya tanpa permisi dan sering kali terlalu malas untuk mengembalikan. Belum lagi pinjaman uang yang kebanyakan berakhir dengan pemutihan.

Masih ditambah lagi jika ada penghuni kost yang membuat ulah. Sebagai penghuni yang tertua dan paling dikenal di lingkungannya, dialah yang ditegur. Tak peduli jika ian sama sekali tidak tahu menahu kejadian itu.

Semakin lama, kenyamanan yang dulu diberikan tempat itu semakin pudar alih-alih ketidak nyamanan. Sebuah keputusan berbinar dibenaknya: PINDAH!