Mid Night Call

ini novel hasil latihanku menulis. diilhami oleh pengalamnku yang sering dicurhatin oleh orang-orang yang tidak aku kenal via telepon. Aku emang pernah sengaja mempublikasikan no. tlp rumahku untuk menerima curhat dari siapa saja. Tapi dijamin cerita ini tidak diambil dari kisah-kisah yang dicurhatkankepadaku.

My Photo
Name:
Location: Balikpapan, East Borneo, Indonesia

aku orang yang apa adanya. terbuka, dan suka bercerita. Semoga orang lain suka

Monday, November 01, 2004

04a. Telepon Pertama

dering telepon tengah malam mengusik istirahat ian. Susah payah ian mengatasi insomea, saat mulai terlelap justru terbangunkan oleh telepon. siapa sich yang menelpon tengah malam begini? Ada berita apa? Atau ada perlu apa?

Siapa pun dia, pasti bukan orang yang ian kenal. Ian belum memberitahu nomor telepon ini pada siapa pun, semua teman dan keluarga masih menelpon dia lewat HP. Tapi kasian juga kalo tidak diangkat.

"Hallo, selamat malam"
"Selamat malam. Ini bukan telepon mbak Shanti ya?" terdengar suara merdu disana.
"Bukan"
"Maaf, saya salah sambung."

Huh, penelpon pertama salah sambung.

Lalu telepon itu berering lagi.

"Hallo, selamat malam!"
"Selamat malam, sepertinya ini yang tadi ya? Maaf saya salah sambung lagi"
"Bisa jadi ya, bisa jadi tidak. Mungkin mbak Shanti penghuni rumah ini sebelum saya."
"Jadi mas penghuni baru ya?" ada nada kecewa di ujung sana.
"Benar, mungkin mbak bisa telepon lagi besok, saya akan tanya ke pemilik rumah. Mungkin beliau tahu nomor telepon mbak santi yang baru."

Diam sejenak.

"Ngga perlu mas, nanti merepotkan. toch saya juga tidak kenal sama mbak santi. Saya cuma ingin curhat sama dia"

"Maksudmu kamu mau curhat sama orang yang tidak kamu kenal?"

"Kedengarannya anh, tapi begitulah. Mbak santi pernah mempublikasikan nomornya di radio. Katanya sih banyak yang suka curhat ke dia."

Kedengarannya gawat, pasti nanti akan ada banyak telepon dari orang yang tidak dikenal yang ingin curhat. Tapi bukannya dulu ian ian selalu jadi tempat curhat?

"Oke dech, kalo gitu kamu boleh curhat ke aku?"

"Kamu psicolog?"

"Bukan, bukan juga psicater. Tapi 2 orang sepupuku iya, akus suka mengikuti diskusi mereka dan membaca buku-buku koleksi mereka. Aku juga sering di curhatin teman-temanku. Rasanya aku bisa diandalkan untuk dicurhatin."

Lagi-lagi diam.

"Baiklah, aku akan cerita. Tolong didengarkan, jangan disela. Ceritaku akan panjang, semoga kamu tidak bosan mendenarkan."



0 Comments:

Post a Comment

<< Home